‘Kepentingan’ Di Atas Segalanya vs Budi Pekerti

Film Budi Pekerti siap ditonton di layar Netflix

Film Budi Pekerti telah pamit dari layar bioskop nasional dengan penonton lebih dari 500 ribu orang. Film yang memiliki pesan edukasi ini berhasil menghantarkan dua pemerannya meraih piala citra, selain mendapatkan beberapa nominasi dan penghargaan bertaraf nasional dan internasioanl. Dan baru-baru ini film Budi Pekerti pun telah tayang di layar Netflix.

Bagi yang belum sempat menonton atau ingin mengulang adegan-adegan dari para pemain seperti  Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, Omara Esteghlal, dan Ari Lesmana, netflix memberi kesempatan itu.

Sebagai penonton, sebelum menyaksikan sebuah film, biasanya kita memiliki ekspektasi tertentu. Apalagi bila sebuah film itu terlanjur ramai jadi pembicaraan publik. Aku membayangkan sebuah cerita jadul yang dikemas dengan rasa kekinian. Begitulah kira-kira bayanganku tentang film Budi Pekerti ini, terutama berdasar judulnya.

Lalu, saat mulai menonton, saat menikmati jalannya cerita yang ditampilkan, hingga usai menontonnya, sambil menarik nafas aku membatin, film ini digarap sangat cerdik sehingga alurnya terasa enak ditonton dan tidak menggurui. Baca Selengkapnya …

WARISAN CITA-CITA

 

Sore ini mas Klinying dan kawan-kawan sedang kongkow di warung ibunya mba Wati. Mas Klinying yang sedang menyeruput kopi hitam kental itu serius menyimak obrolan mas Basirin.

“Kita ini sebagai anak bangsa harus menerima warisan dari para leluhur bangsa, tidak bisa tidak. Itu telah digariskan. Suka tidak suka, warisan telah ditinggalkan, dan kita harus menerimanya!”

“Memangnya ada ya mas Bas, orang yang tidak suka menerima warisan?” Potong Pion menyela.

Mas Basirin menunjuk ke arah Pion sebelum bicara, “Ya kalau warisannya harta, pastinya semua orang suka menerimanya. Namun, ini warisannya berupa tanggung jawab, jadi ya sangat mungkin ada yang tidak suka!” seru mas Bas dengan nada nyinyir.

“Gitu ya, emangnya apa sih warisannya itu? Bukan warisan hutang yang dilakukan oleh negara / pemerintah kan ya?!” Pion penasaran.

“Nah ini, gawat ini kalau sampai ngaku sebagai generasi penerus tapi tidak tahu warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur pendiri bangsa…” mas Bas diam menunggu reaksi Klinying, Pion, Saklun, dan Don yang ikutan kongkow sore ini.

Baca Selengkapnya …