Pemimpin Muda, Banyak Syaratnya, Tak Cukup Usia Muda

Bung Karno tentu berharap pemuda pilihan (gambar by Arif Abinaufal)

Apabila disodorkan pilihan, lebih memilih pemimpin muda atau tua, tentu saja  cenderung menyukai yang muda dengan beberapa argumen yang logis. Namun, kecenderungan pilihan itu pun bisa terganggu kenyamanannya bila dasar penentuannya bukan atas pertimbangan kemaslahatan. Pembahasan soal ini tentu saja mengarah pada putusan Mahkamah Agung yang mengubah poin dari ‘saat mencalonkan diri’ menjadi ‘saat dilantik’. Urgensi dari  perubahan itu tak hanya mengganggu banyak pihak, mestinya juga menggangu tidur para pembuat keputusan tersebut. Pandangan penulis terhadap kasus ini serupa dengan pendapat Prof. Mahfud MD berikut: “Saya sebenarnya malas mengomentari itu. Kebusukan cara kita berhukum, sudah bikin mual.”

Tapi baiklah, agar kita terhindar dari mual, lebih baik kita menyelam mencari mutiara dari argumen pentingnya memilih pemimpin muda.

Inspirasi Pemimpin Muda Dunia

Pada banyak literasi kita bisa membaca dan mengetahui kiprah para pemimpin muda dunia yang berhasil membawa perubahan bagi bangsa dan negaranya. Dan, bangsa Indonesia termasuk salah satu yang pernah memilikinya, yaitu Soekarno yang berusia 44 tahun kala menjabat sebagai Presiden RI pertama. Selain itu, banyak pemimpin muda dunia lain yang berhasil membawa kemajuan dan patut menjadi inspirasi.

Untuk level kepala daerah, penulis sempat membantu kampanye pasangan Hade di pilkada Jawa Barat dulu. Pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf, saat itu memulai pencalonannya ketika keduanya masih berusia muda. Dan dalam salah satu video kampanyenya, pasangan Hade mengangkat isu ‘muda’ ini, yaitu semangat, inovasi, dan perspektif baru dalam politik. Semangat yang diusung untuk membangun Jabar dengan membuka sebanyak-banyaknya lapangan kerja yang related dengan kebutuhan kalangan muda. Inovasi terkait dengan isu sebelumnya, tentu akan selaras dengan jiwa muda yang haus akan hal-hal baru. Sedangkan, perspektif baru dalam politik saat itu sangat kental dengan visi partainya Aher yang baru hadir di kancah perpolitikan nasional kala itu.

Membongkar Kebiasaan Lama

Pada kesempatan lain, penulis juga sempat membantu salah satu calon bupati pada pilkada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Di awal tahun 2000-an, saat itu si calon memulai dengan  menyampaikan kegelisahannya, yang kemudian jawaban dari permasalahannya itu menjadi salah satu isu penting dalam visi – misi nya. Sebelum mencalonkan diri, si tokoh ini merupakan seorang pengusaha. Keluh kesahnya, yaitu dalam beberapa kesempatan beliau akan membuka usaha, kerapkali terbentur permasalahan perizinan yang berbelit dan berbiaya mahal. Persoalan yang sama juga menjadi kendala banyak orang yang akan membuka usaha di mana pun daerahnya pada era itu.

Setelah melalui diskusi dan penggalian ide, maka pada visi misi disampaikan gagasan pelayanan satu pintu untuk Kabupaten Sragen. Tentu saja lengkap dengan poin-poin lainnya yang terkait dengan berbagai program pembangunan pemerintahan berkelanjutan. Alhasil si calon, Untung Wiyono meraih kemenangan dalam pilkada dan maju sebagai Bupati Sragen periode 2000 – 2005. Dan gagasan pelayanan satu pintu pun mulai direalisasikan.

Dan tentu saja tidak mudah untuk mewujudkannya. Pondasi disiapkan, sistem dan infrastruktur dibangun. Namun, “pemilik meja-meja” yang sebelumnya memegang kuasa atas proses perijinan merasa keberatan. Konflik kepentingan pun berlangsung cukup sengit. Bayangkan, pihak yang bertahun-tahun meraup keuntungan dengan menjadi pihak yang memberikan cap periijinan, lalu tiba-tiba diambil tentu akan bereaksi. Nah, disini diperlukan sikap progresif dan adaptif yang menjadi karakter pemimpin muda untuk menanganinya.

Setelah berbagai upaya ditempuh, akhirnya Unit Pelayanan Terpadu dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen saat itu. Perubahan terjadi, masyarakat diuntungkan dengan pemangkasan birokrasi yang sebelumnya berbelit menjadi serba mudah dan pasti. Mudah karena prosesnya jelas, baik persyaratannya maupun bagaimana caranya tertuang dengan jelas dan transparan. Pasti karena tertuang berapa lama waktu untuk membuat masing-masing perijinan, termasuk juga biayanya pun tertulis dan terbuka.

Dampaknya bukan hanya kemudahan dalam mengurus perijinan serta keperluan administratif lainnya, lebih dari itu juga tumbuh subur usaha-usaha kecil-menengah yang turut mendorong peningkatan perekonomian masyarakat dan daerahnya. Keberhasilan Sragen membangun Layanan Satu Pintu merupakan pelopor, yang kemudian menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Keberanian dan terobosan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan zaman semacam ini juga menjadi ciri kepemimpinan berjiwa muda yang harus dimiliki pemimpin masa depan.

Kemampuan Menggali Potensi

Penulis merasa beruntung memperoleh satu momen bagus, berkesempatan berbincang dengan Azwar Anas ketika mengawali masa jabatannya sebagai Bupati Banyuwangi. Dan satu kalimat yang tercatat dengan baik diingatan, yaitu tekad beliau saat itu, “Saya akan mencegat wisatawan yang mau ke Bali. Kalau selama ini hanya melintas di Banyuwangi, saya harap mereka singgah dan menikmati pesona Banyuwangi.”

Sebuah kalimat yang mudah diucapkan, namun sulit untuk diwujudkan. Namun bukan berarti karena sulit itu tak mungkin diwujudkan. Dan untuk mewujudkan tentu saja membutuhkan komitmen, kerja keras, dan kemampuan membuka diri untuk bergandengan tangan dengan pihak-pihak yang mungkin dapat membantu merealisasikannya.

Dan terbukti, di masa pemerintahannya, Banyuwangi mampu menggali potensi-potensi yang dimilikinya. Infrastruktur dibangun untuk mendukung upayanya. Semua sektor bekerja sama dengan keras dibawah kepemimpinan Bupatinya. Dan semua pihak di luar diajak bergandengan tangan, sehingga potensi Banyuwangi terpromosikan dengan baik. Hasilnya, seperti kita ketahui bersama, orang tak hanya singgah, namun Banyuwangi kini telah menjadi satu tujuan wisata pilihan di Indonesia.

Muda Saja Tak Cukup

Menelusuri rekam jejak di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin muda itu tak cukup hanya usianya saja yang muda. Mereka harus mampu mewakili generasinya saat ini, untuk melanjutkan tongkat estafet perjalanan peradaban dan membawa perubahan bagi “dunia yang dipimpinnya”. Kalau dalam konteks pilkada, ya bisa dimulai dengan dunia kecil dalam lingkup daerahnya, namun berdampak besar.

Pada banyak kasus, pemimpin tua cenderung sekedar menjalankan kebiasaan yang sudah ada, normatif, dan begitu-begitu saja. Meski tak sedikit pula orang muda yang juga meniru gaya dan polanya pemimpin tua. Senang tampil, hanya menjalankan rutinitas, dan suka pujian. Padahal yang diharapkan adalah orang muda yang memiliki energi, semangat, ide-ide segar yang memungkinkannya menjadi katalisator perubahan signifikan bagi masyarakat dan daerah yang dipimpinnya.

Menjelang Pilkada Serentak tahun 2024 ini, kita semua tentu mengharapkan akan muncul pemimpin-pemimpin muda yang akan mampu membawa perubahan dan kemajuan daerahnya masing-masing, dan berkontribusi bagi Indonesia menyambut Indonesia emas 2045.

‘Kepentingan’ Di Atas Segalanya vs Budi Pekerti

Film Budi Pekerti siap ditonton di layar Netflix

Film Budi Pekerti telah pamit dari layar bioskop nasional dengan penonton lebih dari 500 ribu orang. Film yang memiliki pesan edukasi ini berhasil menghantarkan dua pemerannya meraih piala citra, selain mendapatkan beberapa nominasi dan penghargaan bertaraf nasional dan internasioanl. Dan baru-baru ini film Budi Pekerti pun telah tayang di layar Netflix.

Bagi yang belum sempat menonton atau ingin mengulang adegan-adegan dari para pemain seperti  Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, Omara Esteghlal, dan Ari Lesmana, netflix memberi kesempatan itu.

Sebagai penonton, sebelum menyaksikan sebuah film, biasanya kita memiliki ekspektasi tertentu. Apalagi bila sebuah film itu terlanjur ramai jadi pembicaraan publik. Aku membayangkan sebuah cerita jadul yang dikemas dengan rasa kekinian. Begitulah kira-kira bayanganku tentang film Budi Pekerti ini, terutama berdasar judulnya.

Lalu, saat mulai menonton, saat menikmati jalannya cerita yang ditampilkan, hingga usai menontonnya, sambil menarik nafas aku membatin, film ini digarap sangat cerdik sehingga alurnya terasa enak ditonton dan tidak menggurui. Baca Selengkapnya …

WARISAN CITA-CITA

 

Sore ini mas Klinying dan kawan-kawan sedang kongkow di warung ibunya mba Wati. Mas Klinying yang sedang menyeruput kopi hitam kental itu serius menyimak obrolan mas Basirin.

“Kita ini sebagai anak bangsa harus menerima warisan dari para leluhur bangsa, tidak bisa tidak. Itu telah digariskan. Suka tidak suka, warisan telah ditinggalkan, dan kita harus menerimanya!”

“Memangnya ada ya mas Bas, orang yang tidak suka menerima warisan?” Potong Pion menyela.

Mas Basirin menunjuk ke arah Pion sebelum bicara, “Ya kalau warisannya harta, pastinya semua orang suka menerimanya. Namun, ini warisannya berupa tanggung jawab, jadi ya sangat mungkin ada yang tidak suka!” seru mas Bas dengan nada nyinyir.

“Gitu ya, emangnya apa sih warisannya itu? Bukan warisan hutang yang dilakukan oleh negara / pemerintah kan ya?!” Pion penasaran.

“Nah ini, gawat ini kalau sampai ngaku sebagai generasi penerus tapi tidak tahu warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur pendiri bangsa…” mas Bas diam menunggu reaksi Klinying, Pion, Saklun, dan Don yang ikutan kongkow sore ini.

Baca Selengkapnya …